HALUAN.CO – Kesehatan mental terutama di kalangan generasi muda tengah mendapat perhatian besar banyak pihak.
Remaja dan dewasa muda menghadapi tekanan yang beragam dari tuntutan akademik, hubungan sosial, hingga tekanan dari media digital yang dapat memicu masalah seperti depresi, kecemasan, dan gangguan emosional lain.
Dampaknya terasa pada berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk prestasi sekolah, hubungan sosial, dan kesejahteraan umum.
Berdasarkan data yang ada, jumlah generasi muda yang menunjukkan gejala gangguan mental cukup tinggi, tetapi tingkat akses terhadap layanan profesional masih rendah.
Banyak remaja dan anak muda enggan mencari bantuan karena adanya stigma sosial yang membuat mereka merasa malu atau takut dicap lemah jika berbicara tentang kondisi psikologis mereka.
Hal ini sering membuat kondisi menjadi semakin berat sebelum akhirnya mendapatkan bantuan.
Masalah lain adalah keterbatasan layanan kesehatan mental di Indonesia. Jumlah tenaga kesehatan seperti psikolog dan psikiater belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat, terutama anak muda.
Layanan kesehatan mental juga umumnya lebih tersedia di kota besar sementara di wilayah terpencil masih sangat terbatas, sehingga generasi muda di daerah sulit mendapatkan layanan yang mereka perlukan.
Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah terus mengembangkan berbagai program layanan kesehatan mental.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan layanan telepon darurat yang siap dihubungi saat seseorang mengalami krisis emosional atau pikiran yang mengarah pada tindakan berbahaya.
Layanan ini dirancang untuk memberikan pertolongan awal sekaligus menghubungkan individu dengan tenaga kesehatan yang sesuai.
Selain itu, teknologi digital dimainkan sebagai salah satu cara untuk memperluas akses layanan.
Pemerintah mendorong penggunaan aplikasi kesehatan yang bisa diunduh di smartphone, sehingga masyarakat termasuk generasi muda dapat mendapatkan informasi seputar kesehatan mental dan melakukan konsultasi jarak jauh dengan tenaga profesional tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Namun demikian, berbagai tantangan masih harus diatasi.
Perlu lebih banyak tenaga profesional yang terlatih dan meningkatnya fasilitas layanan seperti klinik psikologi di berbagai daerah.
Program edukasi juga penting terutama di sekolah dan kampus untuk menanamkan pemahaman kesehatan mental sejak dini.
Pendidikan ini dapat membantu generasi muda mengenali tanda-tanda stres, kecemasan, atau depresi serta membekali mereka dengan keterampilan koping yang sehat.
