HALUAN.CO – Jepang menyatakan bahwa Cina kini menjadi tantangan strategis terbesar dalam laporan pertahanan nasional tahunannya, seiring meningkatnya ketegangan militer di Asia Timur. Laporan ini memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi masa krisis baru, dengan keamanan regional yang semakin rapuh.
Pemerintah Jepang menyoroti aktivitas militer Cina yang terus berkembang, serta menyebutnya sebagai ancaman utama bagi stabilitas kawasan. Hubungan Cina-Rusia yang semakin erat dan kemampuan militer Korea Utara yang meningkat juga menjadi sorotan.
Menteri Pertahanan Jenderal Nakatani mencatat keterlibatan militer Rusia dalam latihan gabungan bersama Cina, termasuk patroli laut dan udara. Hal ini menambah kekhawatiran atas koordinasi militer ketiga negara yang semakin terlihat.
Menurut dosen strategi Ryo Hinata-Yamaguchi, Jepang wajar menunjukkan sikap lebih eksplisit terhadap meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Ketegangan dengan Cina meningkat menyusul beberapa insiden militer. Pesawat pengintai Jepang dicegat oleh jet tempur Cina pada jarak sangat dekat di Laut Cina Timur. Jepang mengecam tindakan tersebut sebagai “pendekatan abnormal”, namun Cina menolak dan justru menuduh Jepang memata-matai
Insiden lain juga terjadi pada pertengahan Juni ketika jet dari kapal induk Shandong hampir bersinggungan dengan pesawat Jepang di Pasifik.
Kepulauan Senkaku (Diaoyu dalam klaim Cina) menjadi titik panas. Ratusan kali kapal dan pesawat Cina memasuki wilayah sekitar pulau tersebut. Jepang juga menemukan pelampung besar milik Cina di perairan yang sama.
Agustus 2024 lalu, pesawat pengintai Cina melintasi wilayah udara Jepang di sekitar Kepulauan Danjo, memicu respons dari jet tempur Jepang dan protes diplomatik ke Beijing.
Pemerintah Cina mengecam laporan Jepang, menyebutnya mengandung persepsi yang salah dan sebagai bentuk intervensi dalam urusan dalam negeri. Menurut juru bicara Lin Jian, Jepang seharusnya merenungkan sejarahnya dan tidak menggunakan isu regional untuk memperkuat angkatan bersenjatanya.
Dalam laporan itu, Jepang menyatakan komitmennya untuk menaikkan anggaran militer menjadi 2% dari PDB pada 2027. Meskipun belum menyamai ekspektasi AS sebesar 5%, langkah ini disebut sebagai sinyal bagi Washington bahwa Tokyo ingin menjadi mitra pertahanan yang lebih kuat dan dapat diandalkan.
Profesor Yakov Zinberg menyebut latihan gabungan Cina dan Rusia merupakan pesan kekuatan untuk menekan Jepang. Ia juga menilai Tokyo khawatir terhadap konsistensi dukungan keamanan dari AS di bawah pemerintahan Trump.