Anomali Milenial dan Gen Z: Menuntut Hidup Bermakna di Tengah Stres dan Kegagalan Sistem

Redaksi
8 Min Read

Oleh:
Hafrizal Okta Ade Putra
Dosen Magister Manajemen
Universitas Tamansiswa Padang

HALUAN.CO – Artikel ini bukan soal anomali yang digandrungi banyak anak-anak saat ini, yang merujuk pada tren konten brain rot atau anomali brain rot. Konten yang sering muncul di media sosial, terutama TikTok. Menampilkan karakter aneh dengan nama yang absurd seperti Boneca Ambalabu atau Dreamybull. Tetapi ini soal anomali kondisi Milenial dan Gen Z di Indonesia.

Milenial dan Gen Z semakin sadar, selektif, dan menghadapi tantangan kompleks yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka berjuang untuk menjadi lebih baik di tengah tantangan yang tidak baik. Mereka semakin baik dalam menentukan prioritas pribadi. Namun, di sisi lain juga sangat rentan terhadap tekanan ekonomi dan kesehatan mental yang disebabkan oleh ketidakselarasan antara pendidikan dan pekerjaan, serta tuntutan kehidupan modern.

Gambaran tersebut merupakan kesimpulan yang dapat saya tangkap dari Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026, sebuah riset yang dilakukan oleh IDN Research Institute. Laporannya rilis pada tanggal 27 Agustus lalu, dalam acara Indonesia Summit 2025 di Gedung The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Laporan tersebut disusun berdasarkan riset kualitatif dan kuantitatif, termasuk survei kepada lebih dari 1.500 responden dari 12 kota di Indonesia. Saya baru membacanya di awal September lalu, yang saya unduh melalui situs web www.indonesiasummit.com, dan baru sempat saya ulas secara ringkas di tanggal 2 Oktober ini.

​Milenial (29-44 tahun) dan Gen Z (13-28 tahun) merupakan dua kelompok demografi yang jumlahnya dominan di Indonesia. Mereka secara aktif mendefinisikan ulang konsep fundamental hidup, mulai dari kesuksesan, pernikahan, dan keterlibatan sosial. Semuanya didasarkan pada intensi atau kesadaran tujuan yang mendalam.

​Perubahan paling menonjol terlihat pada struktur keluarga dan pandangan terhadap pekerjaan. Data laporan IDN Research Institute menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia turun signifikan, dari lebih 2 juta pada 2018 menjadi sekitar 1,57 juta pada 2023.

Proporsi anak muda yang menikah juga turun tajam dari 44,45% (2014) menjadi 30,61% (2023). Penundaan ini bukan sekadar masalah finansial, melainkan didorong oleh pandangan bahwa pernikahan adalah hubungan yang harus didasarkan pada keselarasan emosional dan tujuan bersama, bukan kewajiban sosial.

​Dalam dunia kerja, Milenial dan Gen Z tidak lagi mengukur kesuksesan dari jabatan atau kepemilikan. Mereka memprioritaskan fleksibilitas, tujuan, dan otonomi. Bagi Gen Z, kekhawatiran terbesar setelah memiliki anak adalah hilangnya pertumbuhan karier (62%). Menantang asumsi sebelumnya bahwa mengasuh anak harus mengorbankan perkembangan karir.

Berita Lainnya  Sandiwara Veronica Tan terbongkar? Ahok gugat cerai didukung Nicholas Sean: Stroke terus mati, for me it's...

Organisasi atau perusahaan yang isinya didominasi oleh Milenial dan Gen Z, rasanya sudah harus mulai meninggalkan model yang kaku. Perlu model kerja baru dengan menyediakan lingkungan kerja yang mengedepankan fleksibilitas, tujuan, dan otonomi. Model kerja yang memungkinkan Milenial menyeimbangkan tanggung jawab keluarga, dan Gen Z untuk mencapai kebebasan pribadi dan kreatif. Kesuksesan kini bagi mereka bukan hanya soal jabatan, tetapi kontrol terhadap waktu dan energi emosional.

​Meskipun sama-sama tertekan, sumber stres utama kedua generasi menunjukkan perbedaan psikologis yang cukup menonjol. Milenial sangat terbebani oleh tekanan finansial (44%). Ini mungkin wajar, karena banyak yang menjadi sandwich generation atau menanggung tanggung jawab ganda.

Sementara itu, Gen Z paling tertekan oleh ketakutan disalahpahami (48%). Tumbuh di ruang digital yang hyper-visible (istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang atau kelompok yang sangat menonjol dan terekspos secara berlebihan di ruang publik, terutama di media digital dan media sosial) dan tuntutan akan ekspresi diri yang apa adanya. Namun, di saat bersamaan rentan terhadap pengawasan dan penghakiman publik, sehingga menciptakan beban emosional bagi mereka.

Dari sisi keterlibatan politik, tidak lagi terbatas hanya di bilik suara pemilu, tetapi juga di ruang digital. Misalnya, sebanyak 22% responden memandang protes digital seperti tagar #IndonesiaGelap sebagai ekspresi langsung ketidakpuasan terhadap tata kelola dan kegagalan kebijakan publik. Ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah dan institusi politik juga tinggi.

Pemerintah harus mendapatkan kembali kepercayaan melalui transparansi dan dampak struktural yang nyata. Perlu dibangun dialog yang dapat dipercaya, mengadopsi bahasa yang mudah dipahami, dan dapat diakses. Terjemahkan kebijakan kompleks yang sulit dipahami menjadi konten yang sederhana dan faktual. Ini akan membantu memerangi disinformasi dan membangun kepercayaan, bukan sekedar klaim atau bahkan janji semata.

Dalam menyuarakan pendapatnya (aksi sipil), Gen Z (31%) lebih aktif di media sosial dibandingkan Milenial (22%). Meskipun demikian, partisipasi menggunakan hak suara dalam pemilu tetap menjadi bentuk utama keterlibatan politik bagi Gen Z (63%) dan Milenial (58%).​

50% Gen Z juga menuntut adanya kuota politik secara formal untuk perwakilan anak muda. Ini menunjukkan keinginan untuk perubahan dalam struktur pengambilan keputusan. Tidak hanya sekadar berpartisipasi dalam kerangka lama yang terkesan hanya sebagai simbol saja, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata.

Berita Lainnya  Curhat terkait pernyataan warganet akan dirinya yang terkenal lewat jalur duka, Fuji: Aku ngapain mereka sih?

​Laporan ini juga menyoroti ketidakselarasan yang memicu skeptisisme mereka. Milenial merasa kecewa karena ijazah formal yang semakin tidak berharga. Sementara Gen Z sejak awal sudah skeptis. Mereka mencari pendidikan yang praktis dan relevan dengan tujuan karier.

Dapat dikatakan bahwa kedua generasi ini menganggap bahwa sistem pendidikan gagal memberikan nilai yang berkelanjutan untuk masa depan mereka. Perlu merubah fokus dari gelar akademik menjadi keterampilan fundamental yang adaptif, termasuk kemampuan pemanfaatan teknologi informasi yang relevan dengan pekerjaan hari ini dan di masa depan.

Berikutnya, akses ke informasi keuangan melalui financialfluencer (orang yang memiliki pengaruh signifikan di media sosial dalam menyebarkan konten terkait investasi, pengelolaan uang, utang, atau perencanaan keuangan) saat ini memang banyak tersedia, tetapi di sisi lain berbahaya. 54% dari kedua generasi ini pernah menghadapi penipuan finansial, dan hanya 37% yang yakin bisa mendeteksinya. Ini menunjukkan kurangnya kemampuan berpikir kritis untuk memverifikasi informasi sehingga terlalu mudah untuk percaya dan sulit menahan diri dari pembelian impulsif.

Kita tidak bisa simpulkan hasil survei ini secara langsung yang menandakan bahwa Milenial dan Gen Z semakin baik atau buruk. Sikap dan keputusan mereka mencerminkan adaptasi terhadap kondisi ekonomi dan sosial saat ini yang dapat dilihat dari dua sisi, positif dan negatif.

Sisi positifnya, kesadaran dan prioritas mereka lebih baik dan sehat, terutama dari sudut pandang mental. Di sisi negatifnya, potensi beban stres semakin meningkat dan akan muncul kerentanan baru di kemudian hari.

Milenial dan Gen Z menuntut agar dunia menjadi lebih selaras dengan nilai-nilai mereka, keinginan internal yang mendalam untuk hidup lebih sadar dan bermakna. Karena jumlahnya mendominasi, maka Indonesia harus beradaptasi terhadap intensionalitas mereka. Ini adalah salah satu kunci untuk pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *