HALUAN.CO – Dalam dekade terakhir, China telah mencatatkan diri sebagai salah satu negara dengan laju pembangunan infrastruktur tercepat di dunia. Dari jembatan raksasa, rel kereta supercepat, hingga terowongan panjang, semua dibangun dalam waktu yang mengagumkan. Namun, di balik kecepatan dan kemegahan tersebut, terdapat pelajaran penting yang harus dipahami, terutama oleh generasi muda di Indonesia. Infrastruktur besar bukan hanya tentang “cepat selesai”, tetapi juga tentang “aman dan bertahan lama”.
Salah satu contoh yang sering dibicarakan adalah jembatan baru di provinsi Sichuan, China, yang roboh hanya beberapa bulan setelah dibuka untuk umum. Kejadian ini menjadi simbol bagaimana tantangan geologi, cuaca ekstrem, dan tekanan pembangunan dapat mempengaruhi struktur yang tampak kuat dari luar. Meskipun kasus ini terjadi di luar negeri, banyak pelajaran yang relevan bagi kita saat ini.
- Bumi yang Terus Bergerak: Infrastruktur Harus Menyesuaikan
China memiliki wilayah geologi yang kompleks, dengan gunung tinggi, pergerakan lempeng aktif, dan area rawan longsor. Jembatan yang roboh tersebut berada di daerah pegunungan dengan tanah yang perlahan bergeser, sesuatu yang bahkan teknologi canggih sulit prediksi sepenuhnya. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa tidak ada pembangunan yang benar-benar “kebal alam”. Di Indonesia, fenomena serupa bisa terjadi pada jembatan di lereng, jalan tol pegunungan, atau pembangunan di wilayah rawan gempa. Generasi muda perlu lebih sadar bahwa infrastruktur megah bukan berarti bebas risiko. Pemahaman ini penting saat memilih tempat tinggal, berinvestasi properti, atau sekadar berkendara melewati daerah rawan.
2. Pembangunan Cepat vs. Pembangunan Berkualitas
China dikenal dengan pembangunan kilatnya. Kadang hal ini sangat positif: konektivitas meningkat, ekonomi berkembang cepat, teknologi berkembang pesat. Namun, tekanan untuk menyelesaikan proyek besar dalam waktu singkat dapat membuka peluang kurangnya evaluasi geologi mendalam, perawatan struktur yang tergesa, atau pengawasan proyek yang tidak menyeluruh. Infrastruktur bukan sekadar “selesai”, tapi juga “aman untuk 50–100 tahun ke depan”. Bagi anak muda, ini mengajarkan hal penting dalam hidup: hal besar butuh pondasi kuat tidak bisa dibangun terburu-buru. Baik karier, bisnis, hubungan, maupun keputusan hidup.
3. Melek Infrastruktur: Kebutuhan Generasi Muda
Banyak dari kita mengira urusan jembatan, jalan, dan bendungan hanya urusan pemerintah. Padahal, ini urusan kita semua. Anak muda sekarang perlu terbiasa membaca peta risiko daerah, paham mana wilayah rawan banjir atau longsor, tahu bagaimana memilih hunian yang aman, atau minimal tahu jalur evakuasi jika terjadi bencana. Kasus runtuhnya infrastruktur di negara mana pun adalah pengingat bahwa keselamatan diri dimulai dari pengetahuan.
4. Ketahanan Infrastruktur: Kunci Masa Depan
Dengan perubahan iklim yang makin ekstrem, curah hujan yang tidak menentu, dan intensitas bencana alam yang meningkat, infrastruktur masa depan harus lebih fleksibel, adaptif, tahan cuaca ekstrem, dan dirawat secara berkala. China sedang mulai transisi ke pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan lebih berhati-hati, dan ini bisa jadi contoh bagi negara berkembang lain — termasuk Indonesia. Generasi sekarang akan hidup lebih lama dengan infrastruktur yang dibangun hari ini. Jadi, kualitasnya harus jadi perhatian kita juga.
5. Pelajaran Hidup: Jangan Tertipu Penampilan Luar
Jembatan besar dengan tiang megah bisa terlihat kokoh, tapi bisa runtuh jika fondasinya tidak sesuai kondisi tanah. Sama halnya dengan kehidupan anak muda: karier yang cepat naik bukan jaminan stabil, hubungan yang tampak harmonis bisa retak kalau komunikasi buruk, keuangan yang terlihat aman bisa runtuh tanpa perencanaan jangka panjang. Kasus jembatan roboh adalah metafora kuat: yang kelihatan kuat belum tentu benar-benar kuat. Fondasi adalah segalanya.
Jembatan yang roboh di China bukan sekadar berita teknis. Itu pengingat global bahwa pembangunan baik fisik maupun personal tidak boleh hanya mengejar kecepatan. Bagi anak muda Indonesia, ini saatnya belajar melihat dunia lebih kritis: memahami risiko, menghargai kualitas, dan membangun hal-hal penting dalam hidup dengan fondasi yang kuat. Karena yang kokoh adalah yang dibangun dengan sabar, bukan yang diselesaikan dengan buru-buru.
