Maryam Abu Daqqa, Jurnalis Foto dari Gaza yang Tewas Akibat Serangan Israel

Husni Rachma
3 Min Read

HALUAN.CO – Serangan udara yang diluncurkan Israel terhadap Kompleks Medis Nasser di wilayah Khan Younis, Gaza bagian selatan, menewaskan Maryam Abu Daqqa, fotografer jurnalistik untuk Independent Arabia.

Saat kejadian, Maryam tengah merekam dampak serangan dari dalam gedung darurat rumah sakit.
Ledakan terjadi dua kali, menghantam lantai empat serta atap gedung tempat para jurnalis, pasien, dan tim pemadam kebakaran berlindung.

Empat pewarta lain turut menjadi korban jiwa bersama Maryam. Komite Perlindungan Jurnalis menyebut jumlah jurnalis yang terbunuh dalam konflik Gaza sejak Oktober 2023 mendekati 200 orang—jumlah yang belum pernah terjadi dalam sejarah konflik kontemporer.

Maryam telah menjadi bagian dari Independent Arabia sejak tahun 2020 dan sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, ia tak pernah berhenti meliput.

Dengan rompi pelindung, ia rutin meliput di lapangan dan selalu berpamitan kepada anak tunggalnya, Ghaith, yang kemudian pindah ke Uni Emirat Arab. Maryam memilih tetap tinggal untuk menjalankan misinya sebagai jurnalis.

Kehilangan tempat tinggal dan perlengkapan tak menghentikannya mendokumentasikan kehidupan para pengungsi, bencana kemanusiaan, hingga aksi militer Israel.

Berita Lainnya  Rusia Kerahkan Armada Laut dan Ribuan Pasukan dalam Latihan Militer Global

“Energinya tidak tertandingi dalam liputan media. Ia selalu hadir di setiap sudut dan setiap peristiwa,” ujar Tahseen Al Astal, Wakil Ketua Serikat Jurnalis Palestina.

Ia juga menyampaikan bahwa wafatnya Maryam sangat mengguncang kalangan pers Gaza.

“Ia sangat dicintai rekan-rekannya. Semua mengakui bakat dan kegigihannya meski di bawah tekanan. Ia adalah panutan,” katanya kepada The Independent.

Maryam juga mengalami kesedihan pribadi saat sang ibu meninggal dunia di rumah sakit tanpa sempat mendapat layanan medis yang memadai.

Di tengah pekerjaannya, ia juga harus menghadapi momen sulit saat harus mengabadikan rekan-rekannya yang tewas.

“Setiap kali saya memotret mereka, saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya akan bernasib sama, ataukah saya selamat dari pembantaian ini?” kenangnya.

Kakaknya, Sadik, menggambarkan Maryam sebagai sosok penuh empati yang selalu hadir untuk membantu sesama.
Ayahnya, Riad Abu Daqqa, tak sanggup menahan kesedihan saat memeluk jenazah putrinya.

Berita Lainnya  Gaza Dilanda Krisis Air, Perparah Kondisi di Tengah Serangan Israel yang Betubi

“Saya kehilangan putri yang paling berharga. Hidup saya terikat padanya. Ini kehilangan besar bagi kami dan bagi para jurnalis. Maryam adalah teladan kemanusiaan yang mulia,” ucapnya.

Maryam dimakamkan dalam suasana penuh kesedihan, diiringi oleh rekan jurnalisnya. Independent Arabia, Serikat Jurnalis Palestina, dan komunitas media lainnya memuji Maryam atas dedikasi, kreativitas, serta rasa kemanusiaannya yang luar biasa.

“Saat kami mengucapkan selamat tinggal, kami menegaskan tekad untuk melanjutkan misi jurnalistik dengan independensi, imparsialitas, profesionalisme, dan keterampilan, sebagaimana yang dilakukan Maryam Abu Daqqa,” demikian bunyi pernyataan mereka.

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *