HALUAN.CO – Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak negara yang mulai menerapkan aturan khusus terkait penggunaan smartphone oleh anak-anak dan remaja. Larangan ini tidak selalu berupa pelarangan total, melainkan lebih kepada pembatasan akses saat di sekolah, pembatasan jam penggunaan, hingga aturan penggunaan media sosial berdasarkan usia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak negatif gawai dan media sosial terhadap kesehatan fisik dan mental anak-anak.
Di Eropa, beberapa negara seperti Prancis, Belanda, dan Inggris telah lebih dulu mengatur penggunaan smartphone di lingkungan sekolah. Prancis, misalnya, telah melarang penggunaan smartphone di sekolah dasar dan menengah sejak 2018. Sementara itu, Belgia sedang meninjau kewajiban sekolah untuk menerapkan aturan “zona bebas smartphone”. Inggris juga telah mengeluarkan pedoman yang mendorong sekolah untuk melarang penggunaan ponsel selama kegiatan belajar. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan konsentrasi belajar, mengurangi distraksi, serta mencegah cyberbullying di lingkungan pendidikan.
Di Asia, kebijakan lebih banyak diarahkan pada penggunaan aplikasi dan media sosial. Jepang, misalnya, mendorong pembatasan waktu layar bagi anak-anak di luar sekolah. China telah menerapkan batas waktu penggunaan TikTok khusus untuk anak-anak, sementara Korea Selatan meningkatkan regulasi anti-kecanduan untuk game dan platform digital. Negara-negara ini menilai bahwa internet telah menjadi tantangan pendidikan baru yang perlu diatasi.
Kesehatan Mental Anak: Kekhawatiran Utama
Alasan utama banyak negara memberlakukan aturan ini adalah karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan mental anak-anak. Beberapa masalah yang menjadi perhatian meliputi kecemasan, depresi, masalah citra tubuh, cyberbullying, gangguan tidur, dan kecanduan internet. Penelitian menunjukkan bahwa paparan media sosial di usia dini dapat meningkatkan risiko gangguan mental, terutama pada fase perkembangan emosional. Anak-anak yang terlalu banyak terpapar layar cenderung memiliki kemampuan fokus yang lebih rendah dan mengalami gangguan tidur kronis.
Belum ada kesepakatan global mengenai kapan anak-anak boleh memegang smartphone. Sebagian ahli berpendapat bahwa larangan total bukanlah solusi, sementara yang lain mendukung regulasi yang lebih tegas. Argumen yang mendukung pembatasan mencakup kesiapan mental anak, risiko adiksi digital, paparan konten berbahaya, dan cyberbullying. Di sisi lain, argumen yang menolak pembatasan menyatakan bahwa smartphone dapat membantu edukasi, mendukung komunikasi keluarga, dan merupakan bagian dari kehidupan masa depan. Akhirnya, banyak negara memilih jalan tengah: pembatasan, bukan pelarangan total.
Di Indonesia, belum ada regulasi resmi mengenai larangan smartphone untuk anak-anak, tetapi diskusinya mulai muncul. Banyak sekolah telah menerapkan aturan internal, seperti menyimpan smartphone selama jam pelajaran, hanya boleh digunakan untuk tugas tertentu, dan penggunaan terbatas di area sekolah. Namun, secara nasional, aturan ini masih bergantung pada kebijakan sekolah dan orang tua. Fenomena kecanduan gadget di kalangan anak Indonesia sudah mendapat perhatian, dengan meningkatnya penggunaan TikTok sejak usia sangat muda, tren “anak kecil pegang smartphone” sejak balita, dan screen time yang meningkat ketika orang tua bekerja. Indonesia kemungkinan akan mengikuti tren global, minimal pada regulasi di sekolah.
Larangan atau pembatasan smartphone pada anak-anak sedang menjadi tren global. Negara-negara kini mulai menganggap penggunaan gadget bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kesehatan mental dan masa depan sistem pendidikan. Meskipun kita mungkin tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi, banyak negara sepakat bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan agar tumbuh sehat di era digital. Perdebatan ini masih panjang, namun satu hal jelas: masa kecil sekarang tidak lagi sama, dan kebijakan teknologi untuk anak akan menjadi salah satu isu global terbesar di masa depan.
