HALUAN.CO – Masyarakat Indonesia dikenal dengan kecintaannya terhadap makanan pedas. Dari sambal, mie pedas, seblak, ayam geprek, hingga camilan pedas dengan tingkat kepedasan ekstrem, tren makanan pedas seolah tak pernah surut, bahkan terus berkembang dengan variasi baru. Namun, mengapa makanan pedas begitu populer dan membuat banyak orang merasa “ketagihan”?
Ternyata, rasa pedas bukan sekadar sensasi di lidah ada proses biologis yang membuat tubuh terus mencari sensasi pedas. Berikut penjelasan ilmiahnya.
Pedas: Sensasi, Bukan Rasa
Banyak yang keliru menganggap pedas sebagai rasa. Secara ilmiah, pedas bukanlah rasa seperti manis, asin, atau asam. Pedas adalah sensasi panas dan nyeri yang dihasilkan oleh zat bernama capsaicin yang merangsang saraf di lidah. Tubuh menganggap pedas sebagai ancaman, mirip dengan rasa panas, sehingga kita berkeringat dan merasa panas saat mengonsumsi makanan pedas.
Reaksi Tubuh Terhadap Sensasi Pedas
Ketika saraf menerima sensasi pedas, tubuh merespons dengan melepaskan adrenalin. Ini menyebabkan jantung berdetak lebih cepat, wajah memerah, tubuh merasa hangat, dan pernapasan sedikit meningkat. Efek ini mirip dengan saat kita berolahraga ringan atau merasa bersemangat.
Endorfin: Hormon Kebahagiaan Setelah Makan Pedas
Tubuh merespons sensasi “nyeri kecil” dengan melepaskan endorfin untuk mengurangi rasa sakit. Endorfin inilah yang memberikan rasa euforia atau “senang setelah makan pedas”. Inilah alasan mengapa banyak orang mengatakan, “Pedas sakit, tapi enak.”
Sensasi Tantangan dari Makanan Pedas
Bagi banyak orang, pedas bukan sekadar rasa, tetapi pengalaman: dari level pedas, tantangan makan, hingga tren pedas yang viral. Fenomena ini muncul karena adanya kompetisi sosial, konten viral, sensasi ekstrem, dan rasa bangga saat berhasil “menaklukkan” level pedas tertentu. Pedas telah menjadi bagian dari budaya pop modern.
Meningkatkan Nafsu Makan dengan Pedas
Capsaicin merangsang reseptor panas yang meningkatkan aliran darah dan membuat tubuh merasa “aktif”. Akibatnya, kita makan lebih lahap, selera meningkat, dan makanan terasa lebih nikmat. Bahkan nasi hangat terasa lebih pas jika disantap dengan lauk pedas.
Mengapa Susu Efektif Mengurangi Pedas?
Air tidak dapat menghilangkan capsaicin, itulah sebabnya minum air justru membuat rasa pedas semakin terasa. Lemak dalam susu dapat melarutkan capsaicin sehingga sensasi pedas berkurang. Oleh karena itu, minuman terbaik saat kepedasan adalah susu, bukan air.
Apakah Aman Mengonsumsi Makanan Pedas?
Secara umum, makanan pedas aman dikonsumsi, tetapi konsumsi berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung, maag kambuh, gangguan pencernaan, dan sensasi panas pada sistem pencernaan. Penting untuk memperhatikan kondisi tubuh masing-masing.
Pedas bukan hanya rasa, tetapi sensasi yang merangsang otak dan tubuh. Capsaicin membuat kita merasa tertantang, melepaskan endorfin, dan membuat pengalaman makan lebih seru. Itulah mengapa makanan pedas terus digemari dan menjadi budaya tersendiri di berbagai negara, terutama Indonesia. Tidak heran, tren makanan pedas seperti geprek, seblak, dan mie level ekstrem tidak pernah sepi peminat karena pedas memang punya cara unik membuat orang jatuh cinta.
