HALUAN.CO – Di zaman sekarang, semakin banyak orang, terutama generasi muda, yang lebih memilih menghabiskan uang untuk pengalaman daripada membeli barang. Aktivitas seperti traveling, menghadiri konser, mengikuti workshop, atau sekadar nongkrong di tempat dengan suasana unik dianggap lebih berharga dibandingkan membeli gadget terbaru atau barang bermerek. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kebahagiaan, kepemilikan, dan nilai hidup.
Barang Fisik vs. Kenangan Abadi
Barang fisik memiliki batasan umur. Seiring waktu, barang-barang ini akan rusak, ketinggalan zaman, atau digantikan oleh model baru. Sebaliknya, pengalaman bersifat personal dan emosional. Kenangan dari perjalanan, momen bersama orang terdekat, atau pencapaian tertentu justru semakin berharga seiring berjalannya waktu. Banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan dari membeli barang cenderung cepat memudar, sementara pengalaman meninggalkan kesan yang lebih lama.
Pengaruh Media Sosial dalam Menilai Nilai
Media sosial secara tidak langsung membentuk preferensi ini. Konten tentang traveling, konser, kuliner unik, atau aktivitas seru jauh lebih menarik untuk dibagikan dibandingkan foto barang baru. Pengalaman dianggap lebih “hidup” dan relevan secara sosial. Namun, di balik itu, banyak orang juga mulai benar-benar menikmati prosesnya—bukan hanya untuk dibagikan, tetapi untuk diri sendiri.
Kesadaran Finansial yang Meningkat
Harga barang, terutama properti dan produk teknologi, terus meningkat. Di sisi lain, banyak orang merasa memiliki barang tidak selalu sebanding dengan pengorbanan finansial yang dikeluarkan. Pengalaman dianggap lebih fleksibel, dapat disesuaikan dengan anggaran, tetap memberi kepuasan, dan tidak menimbulkan beban perawatan jangka panjang seperti barang fisik.
Pengalaman sebagai Pembentuk Identitas
Pengalaman sering kali menjadi bagian dari cerita hidup seseorang. Traveling ke tempat baru, mencoba hal ekstrem, atau mengikuti kegiatan yang bermakna membantu seseorang mengenal diri sendiri lebih baik. Berbeda dengan barang, pengalaman berkontribusi langsung pada pertumbuhan pribadi—baik secara emosional, sosial, maupun perspektif hidup.
Pergeseran ke Gaya Hidup Minimalis
Banyak orang kini sadar bahwa terlalu banyak barang justru menciptakan stres: rumah penuh, harus dirawat, disimpan, dan dipikirkan. Gaya hidup minimalis mendorong orang untuk membeli lebih sedikit barang dan lebih selektif. Pengalaman tidak memakan ruang fisik, tetapi tetap memberi rasa puas. Inilah alasan mengapa pengalaman dianggap sejalan dengan hidup yang lebih sederhana dan ringan.
Dunia Kerja yang Melelahkan dan “Reward Emosional”
Rutinitas kerja yang padat membuat banyak orang mencari pelarian yang benar-benar menyegarkan. Pengalaman seperti liburan singkat, staycation, atau mencoba aktivitas baru dianggap sebagai “hadiah” yang lebih bermakna daripada membeli barang. Pengalaman memberi jeda mental yang sering kali tidak bisa digantikan oleh kepemilikan benda.
Perubahan Nilai Hidup
Bagi banyak orang, kesuksesan kini tidak lagi diukur dari seberapa banyak barang yang dimiliki, melainkan seberapa kaya pengalaman hidup yang dijalani. Cerita, relasi, dan kenangan menjadi aset yang dianggap lebih berharga. Pandangan ini semakin kuat seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas hidup.
Pilihan untuk lebih mengutamakan pengalaman daripada barang mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kebahagiaan dan nilai hidup. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, pengalaman memberi ruang untuk menikmati hidup secara lebih sadar dan bermakna. Bukan berarti barang tidak penting, tetapi banyak orang kini memilih untuk lebih selektif menyimpan yang benar-benar dibutuhkan, dan menginvestasikan sisanya pada pengalaman yang memperkaya hidup.
