HALUAN.CO – Tren global menuju masyarakat tanpa uang tunai atau cashless society semakin menguat. Negara-negara seperti Swedia, Korea Selatan, China, dan Singapura telah hampir sepenuhnya mengandalkan pembayaran digital. Mulai dari transaksi kecil di warung hingga belanja besar di pusat kota, semuanya dilakukan secara digital. Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah Indonesia siap mengikuti langkah tersebut?
Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang kuat menuju digitalisasi. Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan QRIS meningkat 200% dalam setahun terakhir. Dompet digital seperti OVO, GoPay, DANA, dan ShopeePay telah menjadi alat transaksi harian bagi masyarakat. Namun, perjalanan menuju masyarakat tanpa uang tunai sepenuhnya bukanlah hal yang sederhana. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, seperti budaya, infrastruktur, dan keamanan digital.
Negara-Negara yang Hampir Tanpa Uang Tunai
- Swedia: Diperkirakan akan menjadi negara pertama yang sepenuhnya meninggalkan uang fisik, dengan lebih dari 95% transaksinya dilakukan secara digital.
- Korea Selatan: Bank Sentralnya berencana menghapus uang koin dan mendorong pembayaran digital penuh.
- China: Platform seperti WeChat Pay dan Alipay menjadikan pembayaran digital sebagai gaya hidup utama masyarakat urban.
- Singapura: Sistem transportasi, restoran, hingga klinik kesehatan terintegrasi dengan pembayaran digital.
Tren ini menunjukkan bahwa dunia semakin bergerak ke arah yang sama: efisiensi, kecepatan, dan keamanan transaksi.
Tantangan yang Dihadapi Indonesia
Meskipun arah pergerakan Indonesia sudah jelas menuju digital, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi:
- Infrastruktur: Masih banyak wilayah yang belum terjangkau internet.
- Budaya: Budaya “pegang uang” masih kuat, terutama pada generasi tua.
- UMKM: Belum seluruhnya beralih ke digital.
- Literasi Keuangan: Tingkat literasi keuangan yang masih rendah.
Seiring dengan percepatan transisi ke cashless, tantangan terbesar adalah keamanan data dan perlindungan pengguna. Risiko utama meliputi pencurian identitas, penipuan digital, kebocoran data finansial, dan sistem fintech yang belum merata. Negara-negara maju mengatasinya dengan regulasi ketat. Indonesia juga mulai memperkuat UU Perlindungan Data Pribadi (PDP), meskipun implementasinya masih berkembang.
Manfaat Besar Cashless untuk Indonesia
- Mengurangi Kriminalitas Uang Fisik: Pencurian, pemalsuan uang, dan perampokan dapat turun drastis.
- Memudahkan Pembayaran dan Pencatatan: Sangat membantu UMKM dalam manajemen keuangan.
- Mempercepat Transaksi Ekonomi: Lebih efisien, terutama di kota besar.
- Mendorong Inklusi Keuangan: Masyarakat yang dulu tidak punya rekening kini bisa bertransaksi lewat dompet digital.
Sebagai negara kepulauan dengan 17 ribu pulau, Indonesia memiliki tantangan infrastruktur yang tidak merata dan kualitas jaringan yang berbeda-beda. Hal ini membuat Indonesia tidak bisa langsung beralih ke cashless total dalam waktu dekat.
Mampukah Indonesia Menjadi Cashless Country?
Jawabannya adalah bisa, tetapi secara bertahap. Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu negara dengan sistem pembayaran digital terbaik di Asia Tenggara, meskipun tidak sepenuhnya tanpa uang fisik. Tahapan realistis yang dapat dilakukan adalah:
- Kota-kota besar menjadi cashless lebih dulu.
- Transportasi publik sepenuhnya digital.
- UMKM semakin kuat menggunakan QRIS.
- Desa-desa pelan-pelan masuk ke ekosistem digital.
Uang fisik tidak akan hilang dalam 10–20 tahun ke depan, tetapi penggunaannya akan semakin berkurang.
Dunia sudah bergerak menuju masa depan tanpa uang tunai. Indonesia pun berada di jalur yang sama, meski prosesnya tidak akan secepat negara-negara maju. Selama infrastruktur digital terus diperkuat dan keamanan data diperhatikan, Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu negara dengan ekosistem pembayaran digital terbaik di kawasan. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada untuk mencapai masyarakat tanpa uang tunai.
