Tren Pembatasan Turis di Berbagai Negara, Apakah Indonesia Perlu Mengikuti?

Redaksi
4 Min Read

HALUAN.CO – Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara di dunia mulai menerapkan kebijakan pembatasan turis untuk mengatasi masalah overtourism. Fenomena ini terjadi ketika jumlah wisatawan melebihi kapasitas suatu destinasi, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, gangguan terhadap budaya lokal, dan penurunan kualitas hidup warga setempat. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, berbagai negara kini memberlakukan pembatasan turis, mulai dari kuota harian hingga tarif masuk khusus.

Negara-Negara yang Membatasi Turis

  1. Jepang: Pembatasan di Kuil dan Kota Lama

Di Jepang, kota-kota seperti Kyoto dan Gunung Fuji telah menerapkan pembatasan turis akibat peningkatan sampah, kemacetan, dan tekanan terhadap warga lokal. Jepang juga sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif khusus bagi turis asing.

  1. Italia: Venice dan Tiket Masuk Wisatawan

Venice menjadi kota pertama di dunia yang mewajibkan turis membeli tiket untuk masuk ke kota tua, sebagai upaya mengendalikan overtourism.

  1. Bhutan: Tarif Konservasi per Malam

Bhutan menerapkan biaya tinggi per malam yang disebut Sustainable Development Fee, untuk menjaga lingkungan dan membatasi jumlah turis.

  1. Thailand: Penutupan Sementara Pulau

Pulau Maya Bay di Thailand pernah ditutup total selama beberapa tahun akibat kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh overtourism.

  1. Selandia Baru: Izin Khusus untuk Hiking Populer

Beberapa jalur trekking di Selandia Baru memiliki kuota harian untuk menjaga ekosistem.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa negara-negara mulai menyadari bahwa alam tidak mampu menampung wisatawan dalam jumlah tak terbatas.

Alasan Pembatasan Turis

Ada tiga alasan utama mengapa negara-negara mulai membatasi turis:

  1. Kerusakan Lingkungan
Berita Lainnya  Pick-Me Girl dan Pick-Me Boy: Mencari Validasi dengan Merendahkan Sesama

Pantai, gunung, dan hutan mengalami kerusakan akibat sampah, polusi, dan aktivitas turis yang berlebihan.

  1. Tekanan Sosial dan Infrastruktur

Kemacetan, kenaikan harga sewa, dan gangguan terhadap kehidupan lokal menjadi masalah yang dihadapi banyak destinasi wisata.

  1. Pelestarian Budaya

Banyak kota bersejarah kehilangan identitasnya karena komersialisasi yang berlebihan. Pariwisata memang membawa keuntungan ekonomi, tetapi tanpa batasan, justru dapat merusak destinasi itu sendiri.

Relevansi Tren Ini dengan Indonesia

Indonesia memiliki beberapa destinasi yang sudah menunjukkan tanda-tanda overtourism, seperti:

  • Bali: Menghadapi masalah kemacetan, sampah, kenaikan harga sewa, dan perilaku turis yang tidak tertib.
  • Labuan Bajo: Mengalami tekanan besar terhadap Taman Nasional Komodo.
  • Bromo: Volume kendaraan meningkat drastis pada musim liburan.
  • Nusa Penida: Kapasitas pulau tidak sebanding dengan jumlah wisatawan harian.

Jika tren ini terus dibiarkan tanpa regulasi, ekosistem destinasi wisata di Indonesia dapat mengalami kerusakan permanen.

Mengapa Indonesia Perlu Mengadopsi Kebijakan Pembatasan?

Indonesia tidak harus menerapkan pembatasan ekstrem seperti Bhutan, tetapi bisa mengadopsi strategi bertahap, seperti:

  • Kuota Harian di Destinasi Populer: Seperti Bromo, Kawah Ijen, dan wisata bahari lainnya.
  • Tiket Masuk Berbasis Konservasi: Dana yang terkumpul bisa digunakan untuk perbaikan sarana dan pelestarian.
  • Pembatasan Kendaraan: Menggunakan sistem shuttle bus untuk mengurangi polusi dan kemacetan.
  • Pendidikan Wisatawan: Melalui papan informasi, aturan ketat sampah, dan larangan perilaku merusak.
  • Pengawasan Lebih Ketat untuk Wisata Alam: Aktivitas tracking, diving, dan camping harus mengikuti standar konservasi.
Berita Lainnya  Israel Hukum Diplomat Kanada di Palestina! Ada Apa?

Langkah-langkah ini tidak hanya melindungi destinasi, tetapi juga mendorong pariwisata berkelanjutan.

Apakah Pembatasan Turis Akan Merugikan Ekonomi?

Tidak. Justru sebaliknya. Banyak negara menunjukkan bahwa turis berkualitas tinggi (dengan pengeluaran tinggi, menghargai budaya, dan peduli lingkungan) memberikan keuntungan lebih besar daripada turis massal yang datang dalam jumlah besar tetapi dengan pengeluaran rendah. Model pariwisata massal memang cepat menghasilkan uang, tetapi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pembatasan turis bukan berarti menolak wisatawan, melainkan melindungi masa depan destinasi. Banyak negara kini menyadari bahwa tanpa batas yang jelas, pariwisata justru merusak tempat yang mereka banggakan. Indonesia, sebagai negara dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, perlu mulai mengatur pariwisata secara lebih hati-hati. Bukan hanya demi lingkungan, tetapi juga demi pengalaman wisata yang lebih baik dan keberlanjutan ekonomi. Langkah kecil hari ini dapat menentukan masa depan pariwisata Indonesia.

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *